Sepanjang usia kita hidup, sudah selama itu pula kita telah mengalami berbagai kondisi yang mengharuskan kita mengambil risiko. Sejak manusia itu dilahirkan, sejak saat itu pula hidupnya diwarnai dengan berbagai risiko, baik yang  ditanggung oleh orang tua, ataupun diri kita sendiri. Pada titik ini, menarik untuk merefleksikan bahwa dengan risiko  yang barangkali sama, respon manusia seringkali berbeda. Ada yang siap menanggung sendiri, ada juga yang memilih untuk menyerahkannya kepada orang lain, atau akhirnya kabur begitu saja,  tidak memperdulikan sama sekali. Mari kita berefleksi sejenak, silahkan kita cari 3 momen dalam hidup kita; saat kita menghadapi risiko, apa respon perilaku kita waktu itu?

Risiko dan pengambilan keputusan, seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Memahami risiko menjadi penting bagi diri seseorang, karena di saat inilah, kita diuji secara naluriah untuk dapat mengambil insight dr informasi yang dibutuhkan. Namun demikian, sebelum informasi, mentalitas mengambil risiko menjadi urgent untuk dimiliki. Mentalitas mengambil risiko, sedikit banyak dipengaruhi oleh latar belakang dan rangkaian peristiwa yang dialami manusia. Besar dan kecilnya, agaknya sangat relatif.

Saya teringat cerita salah seorang guru saya, prof. Rhenald kasali ketika beliau bercerita bahwa dalam sebuah mata kuliah, setiap mahasiswa diberikan tantangan untuk melakukan aktivitas yang belum pernah dilakukan dalam keseharian. Pekan selanjutnya tiba Prof bertanya mengenai apa yang dilakukan oleh para mahasiswanya.  Jawaban yang muncul sangat bervariatif, namun ada satu jawaban menonjol yang diceritakan Prof.  Sebut saja Mawar, ternyata beliau menceritakan bahwa hal yang dilakukannya pekan lalu adalah  berkeliling kota menggunakan transjakarta. Sepanjang hidupnya, mulai dari bersekolah, Mawar selalu diantar oleh supir pribadinya, dan dilarang menggunakan angkutan umum. Bagi Mawar, berkeliling kota menggunakan kendaraan umum merupakan risiko yang menakutkan karena informasi orang tua yang menanamkan kepada dirinya mengenai bahaya dan tidak amannya transportasi umum.

Dalam setiap area kehidupan, risiko akan selalu muncul; di sekolah, pekerjaan, bisnis hingga kehidupan rumah tangga. Semua muncul dengan banyak versi dan intensitas yang bervariasi. Sebagai makhluk yang bersinggungan dengan banyak urusan, yang bisa dilakukan adalah melatih diri kita dengan berbagai aktivitas. Seringnya latihan ini, disadari akan menambah referensi. Saya menyebutnya,  daya takar dalam menilai situasi. Ada risiko yang bisa diukur, ada risiko yang selalu jadi faktor kejutan. Saya percaya, risiko yang datang kepada seseorang, juga menjelaskan sejauh mana ‘nilai diri’ kita.

Kalau selama ini kita selalu menghadapi masalah dengan lingkup  risiko yang sama, bisa jadi kita belum siap untuk menghadapi masalah dengan risiko yang lebih tinggi. Risiko seorang karyawan barangkali masih berkutat dengan efektif dan efisiennya sebuah pekerjaan, namun risiko seorang  business owner banyak terkait dengan pengambilan keputusan dimana ujungnya hanya dua: untung atau rugi.

Setiap diri kita punya peluang untuk bersinar di bidang masing-masing, menyambut risiko, menyelesaikan tantangan di level masing-masing. Ketidakberanian menghadapi situasi yang tidak jelas (unknown) seringkali membuat diri tidak perform. Kita sering kagum pada anak kecil, mereka selalu memandang segala  sesuatu di sekitar mereka sebagai area petualangan mereka. ‘Ketidakpedulian’ mereka dengan tantangan, orang lain dan risiko yang mungkin dialami, membuat mereka bisa sangat kreatif menyelesaikan tantangan petualangan mereka. Keberanian menjadikan mereka lebih kaya pengalaman dan menjadi bekal lanjutan.

Menghidupkan kembali semangat menghadapi ketidakjelasan perlu dirayakan kembali.  Tantangan hidup sedemikian banyak, mengambil tantangan selanjutnya dibutuhkan untuk kita bisa terus bergerak, tak perduli jarak antara satu dengan yang lainnya. Menakar risiko itu penting, tapi lebih penting menjalani hidup dengan keberanian menghadapi the unknown. Sikap hidup inilah yang akan memaksa pikiran kita lebih sensitif, lebih terbuka dengan kemungkinan yang terjadi. Selamat menjalani hidup di hari Senin!