menjaga keikhlasan

percik 1 Comment

kemaren, saya berrtemu dengan pandu, mario, syarif dan patrya. ada kebahagiaan yang luar biasa bisa bertemu mereka setelah hampir tiga pekan sebagian besar mereka disibukkan oleh pemira fisip. banyak senyuman, cerita yang keluar dari mereka, terkait dengan segala proses. saya sangat bersyukur, karena memang momentum-momentum seperti itu (pemira, dan semacamnya), biasanya akan mudah membuat hati kita begitu keras, dan bahkan tidak sensitif. ya, keras. seperti yang saya rasakan dari perlakuan saudara-saudara saya sendiri di fisip.

saya selalu mengingatkan kepada mereka, bahwa tingkatan ukhuwah yang paling rendah adalah berhusnuzhan kepada saudaranya sendiri..tetapi, sangat sulit untuk berkata sungguh-sungguh dengan hal itu, karena realita yang mereka alami, membuat sebagian besar mereka mengalami disonansi kognitif, kebimbangan yang dialami karena yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan. miris dan ingin menangis rasanya, karena suatu momentum pendewasaan menjadikan orang-orang yang mendefine “kita”, menunjukkan diri sendiri, bahwa mereka tidak benar-benar dewasa. justru saya sangat bersyukur bertemu dengan pandu, dan kawan-kawan. dari sana saya belajar, bahwa kebaikan tidak harus diartikulasikan dengan sulit, dengan bahasa minna walaisa minna. tetapi siapapun yang merasa mampu dan memiliki kesempatan, toh dia pantas untuk mendapatkannya. disini berlaku sunnatut tadafu’ sebenarnya.

alhamdulillah, saat ini saya berada pada kondisi cukup untuk mengerti, ada hal-hal yang esensial yang tidak penting lagi untuk dibicarakan kepada orang yang tidak paham, melainkan cukup untuk berpikir keras, bagaimana orang-orang itu menyadari kekhilafan mereka; bahwa ketidaksiapan strategi, ketakutan kalah, dan prasangka berlebihan mampu memperdaya bangunan kebaikan. dan setiap entitas didalamnya, bahkan memperkeruh situasi yang ada.

kita ini manusia, logika struktur, sistem yang mapan, seringkali mengalahkan akal sehat yang secara tajam mengatakan bahwa, kita ini bisa salah, kita ini bisa berbeda, dan kita bisa memperoleh konsekuensi atas apa-apa yang kita usahakan. maka, menjadi bijaklah kita kalau tausiah dari Al-Quran mengingatkan; cukuplah kita semua beramal, biar ALLAH yang menilai semuanya.

Alhamdulillah.